Batu Ajaib yang Bisa Bergerak
Category : " Aqidah,Manhaj "
Pertanyaan:
Asalamu alakum,
Akhir-akhir ini di jombang ada orang yg nemu batu ajaib. Batu ini
ditemukan di kuburan. Satunya bs gerak-grak spt pnya medan magnet. Trus org-org
pada rame minta obat dg batu itu. Bolehkeh scr agama? Minta dijelaskan
sejelas-jelasny…
Makasih..
Makasih..
Jawaban:
Wa alaikumus salam
Semangat manusia untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang dia derita
sangat luar biasa. Berbagai usaha siap dia tempuh untuk mendapatkannya. Jika
mereka menempuh cara yang dibolehkan syariat, mungkin tidak menjadi masalah.
Sayangnya masing sangat banyak masyarakat kita yang menempuh cara yang sama
sekali tidak masuk akal dan bahkan mengancam aqidahnya.
Karena itu, butuh perjuangan panjang dan serius untuk mengajarkan pemahaman yang benar tentang tauhid dan kesyirikan kepada masyarakat. Usaha yang seharusnya terus dibangun, sampai akhir zaman.
Karena itu, butuh perjuangan panjang dan serius untuk mengajarkan pemahaman yang benar tentang tauhid dan kesyirikan kepada masyarakat. Usaha yang seharusnya terus dibangun, sampai akhir zaman.
Kita masih terngiang dengan kasus ponari. Berbekal batu kecil yang aneh, membuat
dirinya menjadi headline news. Sehari harus didatangi puluhan pasien untuk
meminta obat. Saat ini muncul lagi yang serupa, dan peminatnya tetap banyak.
Aturan Mengambil Sebab
Untuk memahami kasus ini, kita perlu
memahami aturan mengambil sebab yang dibolehkan dalam syariat. Penjelasan
tentang ini sebenarnya telah kita kupas ketika membahas hukum menggunakan
gelang magnet untuk pengobatan. Artikelanya bisa anda pelajari di: Hukum
Mengenakan Gelang Magnet untuk Pengobatan
Tentang aturan mengambil sebab, secara ringkas
dapat kita jelaskan bahwa mencari sebab untuk mendapatkan sesuatu, harus
terpenuhi salah satu dari dua syarat,
Pertama, terdapat dalil yang menjelaskan bahwa itu
sebab. Jika terdapat dalil yang menganjurkan maka disebut sebab syar’i.
Kedua, terbukti secara ilmiah adanya hubungan antara sebab dan akibat. Jika terbukti secara ilmiah adanya hubungan sebab akibat maka disebut sebab kauni.
Kedua, terbukti secara ilmiah adanya hubungan antara sebab dan akibat. Jika terbukti secara ilmiah adanya hubungan sebab akibat maka disebut sebab kauni.
Kembali pada batu ajaib itu, apakah boleh kita
menggunakan batu itu untuk pengobatan? Kita perlu menimbang dengan dua
persyaratan tersebut:
Pertama, adakah dalil yang menunjukkan anjuran atau
perintah untuk menggunakan batu yang ditemukan di kuburan? Anda bisa periksa
dari Al-Quran dan sunah. Jika TIDAK ada, berarti itu BUKAN sebab syar’i.
Kedua, adakah penelitian ilmiah yang membuktikan
adanya hubungan antara batu itu dengan penyakit yang diderita pasien? Sudahkah
dilakukan penelitian terhadap unsur dan komposisi si batu, sehingga bisa
dipastikan adanya hubungan dengan penyakit seseorang? Jika tidak ada, berarti
bukan termasuk sebab kauni.
Jika tidak terpenuhi kedua syarat di atas, maka
sejatinya itu bukan sebab untuk mendapatkan kesembuhan. Dan jika tetap
dipaksakan untuk dijadikan sebab, dan diyakini bisa menyembuhkan penyakit dengan
izin Allah maka statusnya syirik kecil. ingat..! meskipun dia yakin itu terjadi
dengan IZIN Allah.
Mengapa Syirik Kecil?
Karena satu-satunya yang bisa menghubungkan dua hal
yang sama sekali TIDAK memiliki hubungan sebab akibat, hanya Allah. Sebagaimana
Allah nyatakan dalam Al-Quran,
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ
فَيَكُونُ
Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia
hanya berfirman: “Jadilah!” Maka jadilah ketetapan itu. (QS.
Yasin: 82)
Meskipun bisa jadi hal itu sama
sekali tidak memiliki hubungan sebab akibat. Namun jika Allah telah menghendaki
maka jadilah. Berbagai sejarah para
nabi dan mukjizatnya, merupakan contoh nyata akan hal ini. Kita tidak akan
pernah tahu apa hubungan tongkat Nabi Musa dengan terbelahnya laut merah. Namun
karena Allah berkehendak, terjadilah.
Mengingat kita tidak tahu bagaimanakah kehendak
Allah itu kecuali berdasarkan dalil atau penelitian ilmiah, maka kita dilarang
mengklaim ada benda tertentu yang bisa menjadi obat dengan kehendak Allah.
Karena tindakan semacam ini termasuk berbicara atas nama Allah tanpa bukti yang
bisa dipertanggung jawabkan, dan itu statusnya syirik kecil.
Dalilnya:
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah
adalah syirik.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat Shahih
Jami’ Ash-Shaghir no. 1632)
Tamimah : buntelan
yang dikalungkan dileher anak kecil,
sebagai perlindungan dari mara bahaya.
Tiwalah : kertas yang bertuliskan mantra sihir, biasanya untuk pengasihan atau lainnya.
(Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abi Daud, 10/262).
Tiwalah : kertas yang bertuliskan mantra sihir, biasanya untuk pengasihan atau lainnya.
(Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abi Daud, 10/262).
Orang yang menggunakan jimat masih
meyakini bahwa itu hanya semata sebab, sementara yang menentukan dia berfungsi
adalah Allah. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebut perbuatan menggunakan jimat berupa tamimah atau tiwalah sebagai
kesyirikan. Karena tindakan semacam ini termasuk mengambil sebab
yang sejatinya bukan sebab.
Motivasi Mereka yang Berobat ke Batu Ajaib
Yang kita tahu, pasien yang datang meminta obat
dengan batu ini, memiliki keluhan penyakit yang tidak seragam. Seolah batu ini
bisa menjadi obat segala penyakit pasien. Karena itulah, dalam kasus ponari
kemarin, tidak ada peringatan bahwa batu spesialis untuk kanker. Sehingga ini
menguatkan asumsi, sejatinya tidak ada sifat fisik maupun unsur kimia dari batu
itu yang memiliki hubungan dengan penyakit pasien.
Tak berbeda dengan kasus baru ini. Batu yang
nampaknya memiliki medan magnet itu didatangi oleh pasien dengan aneka keluhan
penyakit. Artinya, bukan unsur magnetnya yang menjadi sasaran utama, tapi
keajaiban batu itu. Jika sebatas magnetnya yang menjadi tujuan, orang tidak akan
tertarik untuk mendatanginya karena semua orang sudah memiliki magnet.
Lantas apa yang menjadi motivasinya? Motivasi
utamanya tidak lain adalah kesaktian batu itu. Batu ponari menjadi laris, karena
banyak yang meyakini bahwa itu batu sakti. Dilempar balik lagi. Tidak berbeda
dengan batu bermedan magnet ini. Dia menjadi laris karena ditemukan di kuburan
dan diyakini batu unik dan sakti.
Permainan Setan
Sejatinya tidak ada istilah batu sakti, kecuali
yang Allah tetapkan sebagai benda istimewa. Semua batu sama, yang membedakan
hanya sifat fisis dan atau kandungan kimianya. Lalu dari mana batu ponari itu
bisa balik lagi ketika dilempar? Dari mana keris bisa bergoyang?
Jawabannya permainan jin. Seperti yang kita pahami, jin memiliki kemampuan memindahkan barang, dengan cara yang bisa kita lihat maupun tidak kita lihat. Kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan jin Ifrit yang menawarkan untuk memindahkan singgasana Balqis merupakan dalil akan hal ini. Karena itu, anda tidak perlu keheranan, kasus keris bergoyang, batu melayang, batu terbang, dan semacamnya adalah ulah jin.
Sungguh sangat disayangkan ketika
masyarakat begitu mudah tercengankan dengan kejadian aneh semacam itu, padahal
sejatinya adalah permainan jin. Jika penyakit semacam ini tetap dilestarikan,
selamanya masyarakat kita akan menjadi korban bulan-bulanan jin.
Keberhasilan bukan Tanda Kebenaran
Satu lagi yang perlu kita luruskan, tentang
keberhasilan. Beberapa orang tak tergoyahkan untuk tetap berobat dengan batu
atau keris atau semacamnya, karena ada laporan dari beberapa pasien bahwa batu
itu mujarab. Usahanya berhasil, penyakitnya sembuh. Kemudian mereka membuat
prinsip, jika Allah menilai berobat dengan batu sakti itu termasuk perbuatan
kesyirikan, tentu Allah tidak akan menyembuhkannya. Keberhasilan dan kesembuhan
yang diperoleh orang ini, merupakan bukti bahwa tindakan itu tidak bertentangan
dengan aturan syariat.
Tentu saja alasan semacam ini tidak bisa diterima.
Dengan logika sederhana, orang bisa menilai bahwa ini bukan alasan yang
dibenarkan. Karena terlalu banyak usaha manusia untuk mendapatkan kesuksesan
dengan cara yang dilarang, dan ternyata usahanya Allah takdirkan berhasil.
Ada orang yang ingin kaya dengan
cara maling, dan usahanya berhasil. Ada yang dengan menjadi pegawai bank,
dan dia berhasil. Dalam kasus serupa, ada orang yang mencari pesugihan ke gunung
kemukus dengan sebelumnya bermain bersama pezina dan jadi kaya, ada yang mencari
jodoh dengan pelet dan sukses, ada yang menggunakan jimat untuk tawuran dan
menang, dst..
Anda tentu sepakat bahwa Allah tidak mungkin meridhai perbuatan semacam ini.
Meskipun Allah takdirkan mereka berhasil dan sukses mendapatkan apa yang
diinginkan.
Antara Ridha & Takdir Allah
Untuk mengetahui lebih jelas tentang masalah ini,
kita perlu memahami perbedaan antara takdir dengan ridha Allah. Semua yang
terjadi di alam ini, telah ditakdirkan oleh Allah. Dan seperti yang kita
saksikan, tidak semua yang Allah takdirkan, pasti Allah ridhai. Betapa banyak
perbuatan kekafiran, perbuatan maksiat, melanggar aturan yang ada di sekitar
kita, dan itu semua terjadi dengan takdir. Namun jelas semua perbuatan itu Allah
benci. Sebaliknya, tidak semua yang Allah ridhai pasti Allah takdirkan. Allah
ridha jika semua manusia beriman kepada-Nya. Namun semacam ini tidak ada dalam
realita di kehidupan kita.
Dengan demikian, kita tidak mungkin beralasan
dengan takdir untuk membenarkan pelanggaran yang kita lakukan. Karena sikap
semacam ini yang dilakukan orang musyrikin. Sebagaimana Allah ceritakan,
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا
وَلَا آبَاؤُنَا
“Orang-orang musyrik itu akan mengatakan, jika Allah berkehendak,
tentu kita tidak akan berbuat syirik, tidak pula nenek moyang kita..”
(QS. Al-An’am: 148).
Orang-orang musyrik berdalil dengan takdir untuk
membenarkan syirik mereka. Karena beberapa kali mereka syirik dalam berdoa atau
beribadah, dan mereka berhasil. Andaikan Allah tidak merestui, seharusnya Allah
sudah menghancurkan berhala kami. Nyatanya semua Allah biarkan dan hasilnya
sukses. Ini menunjukkan syirik mereka direstui Allah. (Tafsir As-Sa’di, 1/278)
Hati-hati Dengan Istidraj
Tidak ada kata padanan yang tepat untuk kata
istidraj dalam bahasa indonesia. Untuk bahasa jawa, istidraj sering disepadankan
dengan kata: ‘dilulu’ atau ‘diujo’. Keadaan dimana seseorang dibiarkan oleh
Allah untuk menikmati kemaksiatan yang dia lakukan.
Mereka yang menggunakan jimat kemudian berhasil,
sejatinya merupakan istidraj dari Allah. Mereka yang mencari pesugihan dan
sukses, sejatinya merupakan istidraj. Orang ini dibuat semakin yakin dengan cara
yang dia lakukan, dengan keberhasilan yang dia dapatkan.
Dalam sebuah hadis dinyatakan,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Siapa yang bergantung kepada sesuatu, dia akan dibuat semakin
bergantung kepadanya.” (HR.
An-Nasai 4079).
Sungguh ancaman yang sangat menakutkan. Orang yang
bergantung pada jimat, pesugihan, air dzikir kiyai, tulisan rajah-rajah,
paranormal, dukun, dst, bisa jadi Allah akan buat orang ini sukses dengan
usahanya, sehingga semakin bergantung kepada selain Allah. Mungkinkah dia bisa
disadarkan dan diajak bertaubat??
Allahu a’lam
Dikutip dari Sumber Artikel : " KonsultasiSyariah.com "
Artikel : Tuntunan Islam - Selada Raya
Kunjungi: Perumnas I Selada Raya Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
![]() |
![]() |
Ingin Mendapat Tambahan Pahala dan Terkabul Do'a?
Sebarkan Artikel ini, agar Anda mendapat Pahala Berbagai Ilmu Bermanfaat
Do'kan kebaikan untuk kami, agar Anda mendapat Kebaikan Yang sama
Do'akanlah agar pengelola website ini beserta keluarga besarnya Allah jadikan panjang umur dan bertakwa, diampuni segala dosa, sehat-kaya-bahagia hingga akhir
usia. Dengan mendo'akan kebaikan untuk kami, Insya Allah Anda mendapat kebaikan yang sama.
Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Do'a seseorang muslim untuk saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do'a yang mustajab (terkabulkan).
Disisinya ada malaikat yang bertugas (mengaminkan do'a-nya). Setiap kali dia mendo'akan kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau
akan mendapatkan yang sama dengan-nya." {HR. Muslim no. 2733}.


