Home » , » Mengucapkan Salam Ketika Berpisah

Mengucapkan Salam Ketika Berpisah

Written By Rachmat.M.Flimban on Sabtu, 11 April 2015 | 14.04

Print Friendly and PDFPrint Artikel ini

Category  : Amalan, Nasehat

Transcribed On: Nov 26 2014

Apakah disunnahkan kembali mengucapkan salam ketika berpisah sebagaimana saat kita bertemu?

Sunnah Mengucapkan Salam Ketika Berpisah

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Jika seseorang duduk-duduk dengan suatu kaum lantas ingin berpisah, maka disunnahkan untuk memberi salam untuk mereka.” (Al Adzkar, hal. 469).

Di dalam kitab Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi juga membawakan judul Bab, “Bab sunnahnya mengucapkan salam ketika meninggalkan majelis dan berpisah dengan rekan-rekan.

Dalil yang dibawakan adalah hadits berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ

Apabila salah seorang di antara kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia pun mengucapkan salam. Tidaklah pertama lebih berhak daripada yang terakhir.” (HR. Abu Daud no. 5208 dan Tirmidzi no. 2706. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Tekstual hadits (zhahir hadits) menunjukkan bahwa wajib bagi jama’ah menjawab salam tersebut ketika disalami saat berpisah.” (Al Adzkar, hal. 469).

Bentuk Keadilan Ajaran Islam

Yang dimaksud dengan kalimat “tidaklah pertama lebih berhak daripada yang terakhir”, yaitu jika engkau masuk mengucapkan salam, maka ketika berpisah pun mengucapkan salam. Demikian diutarakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam , 4: 428.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengutarakan, “Jika seseorang masuk masjid, maka hendaklah ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula ketika keluarnya. Ketika seseorang masuk Makkah untuk umrah haji dimulai dengan thawaf (thawaf qudum atau thawaf umrah, -pen), begitu pula ketika meninggalkan Makkah dengan melakukan thawaf ifadhah. Thawaf adalah amalan untuk menghormati (bentuk tahiyyah) tanah haram Makkah saat haji atau umrah. Itulah kesempurnaan syari’at Islam menjadikan awal dan akhir itu sama.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 428-429)

Yang dimaksud oleh Syaikh Ibnu Utsaimin bahwa saat masuk masjid mengucapkan salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berdasarkan doa berikut yang diucapkan ketika masuk masjid,

بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Bismillah wassalaamu ‘ala rosulillah. Allahummaghfir lii dzunuubi waftahlii abwaaba rohmatik (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu).” (HR. Ibnu Majah no. 771 dan Tirmidzi no. 314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketika keluar masjid disunnahkan meminta karunia Allah dengan membaca dzikir dan do’a,

بِسْمِ اللَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى وَافْتَحْ لِى أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Bismillah wassalaamu ‘ala rosulillah. Allahummaghfir lii dzunuubi waftahlii abwabaa fadhlik (artinya: Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu karunia-Mu).” (HR. Ibnu Majah no. 771 dan Tirmidzi no. 314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Adanya salam kepada Nabi ketika masuk dan keluar masjid menunjukkan akan keadilan ajaran Islam. Subhanallah …

Semoga kita bisa terus menghidupkan sunnah Rasul di tengah-tengah kaum muslimin.

Referensi:

Al Adzkar An Nawawiyah, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, cetakan pertama, tahun 1422 H.

Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H.

Sources of articles  : Rumaysho.Com

Rewritten by : Rachmat Machmud  end Republished by : Redaction Selada Raya

Kembali Keatas

Hari ini :
Share this article :


 
Support : Ajaran Islam | Central Sela Raya | Redaksi
Copyright © 2013. TUNTUNAN ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger